poto

0
Juara 1 Sayembara Cerita Mini Internasional PPI Yaman
Baju Koko untuk Ayah
By: Yoni Elviandri*

                Suara adzan telah menggema dari surau yang terletak di ujung desa. Gerimis pagi cukup mesra membuat orang-orang sekitar masih terbuai manja dalam peraduan mim-pinya. Dari rumah yang berdinding kayu ini, aku menyelinap bak seorang pencuri kecil yang sedang tergopoh-gopoh melarikan diri. Dengan sarung biru yang kuleletkan di ping-gang, aku melangkah pelan-pelan. Tak akan kubiarkan bunyi langkahku ini membuat segala rencanaku gagal.
             -Mau kemana Ari? Suara ayah cukup mengejutkan dan membuatku panik seketika.
             -Ah, ti..tidak, Yah. Mau ke belakang, meletakan cucian jawabku terbata-bata.
             -Hmm ketahuan bohong nih. Mana cuciannya? Tanya ayah lagi.
             -Ahh..hmm! Aku tak tahu harus menjawab apa lagi. Pastilah kebohongan hari ini terbongkar sudah. Aku takut sekaligus malu. Bukan karena takut Ayah akan memarahiku, sungguh bukan. Karena tak pernah sekalipun amarah keluar dari dirinya, aku takut karena kebohongan ini entah yang keberapa kalinya aku lakukan. Aku takut jika nanti ditanya malaikat tentang semua kebohongan ini.
              -Sudahlah, Bapak tahu kok. Kamu istirahat dulu saja, ya. Jangan terlalu banyak aktivitas, ingat pesan dokter, kan, kemarin? Nanti kalau sudah sembuh, kamu bisa ke surau lagi.
               Oke anakku? Tos dulu lah!! Lanjut Ayah, sambil memeluk tubuhku. Erat sekali. Aku hanya bisa terdiam tak menjawab apa-apa.
               Setelah divonis mengidap kanker beberapa waktu lalu, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Ayah tak membiarkanku dengan secara bebas kemana-mana, bahkan untuk sekolah pun aku selalu dalam pengawasannya. Pekerjaannya yang hanya seorang pemulung pun ditinggalkan demi aku. Ibuku telah meninggal dua tahun yang lalu, penyakit yang sama juga menimpa ibuku. Sehingga saat ini ayah merangkap menjadi seorang ayah bahkan menjadi seorang ibu untukku. Terperangkap lah aku dalam penjara kasih sayangnya. Walau hidup serba tak berkecukupan, namun ayah sangatlah mengajariku arti kehidupan.
             Ia tak pernah memperhatikan dirinya. Yang ia tahu hanya aku harus bisa hidup semestinya. Kesederhanaannya membuatku takjub luar biasa, ia tak pernah ingin tahu bagaimana bajunya yang sangat lusuh itu masih saja hinggap di tubuhnya. Yang ia punya hanya tiga potong celana jeans bekas dengan dua sarung, serta satu baju koko yang telah sangat kumal. Aku berjanji suatu hari akan membelikan sesuatu untuk ayahku.
             Rumah kami memang agak sedikit jauh dari pemu-kiman. Di desaku, rumahku menempati tempat paling ujung. Paling tinggi. Terletak di atas sebuah bukit berbatu. Sehingga kala malam menjelang, kerdip lampu sangat indah terpancar dari sini. Termasuk juga surau itu. Surau tempatku mengaji. Letaknya yang cukup jauh di ujung desa bawah sana mem-buat ayah untuk sementara waktu tidak mengijinkan aku untuk mengaji. Bukan karena ia ingin anaknya tak paham agama, namun lebih karena kasih sayangnya yang tidak menginginkan sesuatu terjadi lagi pada anaknya.
             Hari ini lomba Musabaqah Tilawatil Qur‘an tingkat anak-anak sekabupaten Kerinci sedang di laksanakan di desa-ku. Secara diam-diam aku telah memohon pada guru ngajiku untuk mendaftarkan aku. Karena yang kutahu ada beberapa hadiah yang sangat kuincar menjadi milikku, dan itu hanya akan didapatkan oleh sang juara satu. Beruntungnya, guruku adalah seseorang yang memperhatikan anak didiknya. Ia tahu kemampuanku, dan ia pun tak ragu ketika kuucapkan niat untuk ikut berlomba.
            Ayah sedang tidak di rumah. Tadi pagi beliau berang-kat mengelilingi penjuru desa untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik. Hari minggu yang membebaskan aku, karena tidak ada jadwal sekolah, maka akupun bisa sedikit terlepas dari pengawasan ayah.
            Lima jam telah berlalu dan giliranku pun telah usai. Rasa was-was tentunya menjadi plong seketika. Aku optimis saja walau sebenarnya tidak terlalu yakin. Jarang mengaji di surau bukan berarti aku tak pernah lagi membuka Al-Qur‘an di rumah. Bahkan ayah selalu mengingatkanku untuk itu.
            Hujan deras mengguyuri desaku. Jalan yang berlubang membentuk danau-danau kecil tampungan air hujan. Gelap, langit tak bersahabat. Sebentar lagi Ayah akan pulang, dan dia akan kecewa jika aku tidak berada di rumah. Aku meng-ingkari janji. Namun tak mungkin pula jika harus menerjang hujan ini, kakiku sudah tidak selincah dulu. Beberapa tulang penyangga patah akibat terjatuh tempo hari, bersamaan de-ngan vonis kanker itu ditemukan dokter menjalar di tubuhku.
           Sekarang saatnya pengumuman juara. Satu persatu nominasi telah dibacakan. Aku mengikuti cabang syahril Al-Qur‘an dan tilawah Al-Qur‘an. Cabang syahril Al-Qur‘an jelas aku tak memenangkan apapun. Hanya tinggal satu yang terakhir.
           -Dan juara pertama untuk lomba cabang Tilawah Al-Qur‘an adalah... MC membacakan nominasi terakhir yang membuat semua orang penasaran.
           -Fahri Abdullah!! Teriak MC. Aku tak dapat menyem-bunyikan bahagiaku, langsung bersujud menghadap Allah. Kemenangan ini juga membawa kecamatanku menjadi juara umum untuk pertama kalinya. Suara sorak takbir pun meng-gema. Allahuakbar!
             Belum selesai air mata ini tertahan, di balik hujan kulihat sesosok luar biasa berada di baliknya. Aku langsung menghampirinya. Kupeluk ia erat. Kulihat air matanya pun tak terbendung. Anak cacatnya ini pun ternyata masih bisa berprestasi layaknya anak normal.
            -Ayah, maaf Fahri tidak menepati janji. Fahri berlom-ba hari ini untuk Ayah. Ini baju koko yang Fahri janjikan untuk ayah. Untuk Ayah lanjutku. Ayahku memeluk erat. Tak ada satu kata pun yang terucap darinya, namun sekali lagi kulihat air mata yang mengalir di pipinya sudah mewakili rasa bahagia itu.
            -Ayah, Fahri sayang Ayah bisikku.

* Penulis  beralamatkan di Kerinci, Jambi, Indonesia.

Posting Komentar Blogger

 
Top