poto

0

Oleh : Haidar Assegaf*

   Madrasah Hadramaut, nama yang memiliki sejarah yang panjang dan dalam bahkan hingga hari ini. Madrasah yang menawarkan manhaj yang bukan hanya demi keselamatan individu tapi juga orang banyak. Dengan semangat “tidaklah Kami utus engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta”, para pembesar Madrasah Hadramaut memulai langkah mereka dalam mencetak pribadi-pribadi unggulan untuk kemajuan Islam yang akan datang.

   Jika kita persempit ruang pembahasan kali ini di Kota Tarim, kita dapati banyak sekali tempat-tempat dimana para pembesar Madrasah ini menggembleng anak didik mereka. Ratusan masjid dan zawiyah menjadi saksi bagaimana para ulama besar kota ini mewariskan ilmu dan harapan pada para penerus perjuangan mereka kelak. Sebut saja masjid Aal Ba ‘Alawi, Masjid Al-Wa’l, Masjid As-Seggaf, Zawiyah Asy-Syekh Salim Bafadhl, Zawiyah Asy-Syekh Ali bin Abi Bakar As-Sakran, Mi’lamah´ Abi Murayyim dan masih banyak lagi dan kali ini penulis ingin mengajak pembaca semua untuk mengenal lebih dekat mengenai Mi’lamah Abi Murayyim.

   Kesadaran para ulama hadramaut bahwa sumber utama ilmu pengetahuan adalah Al-Qur’an membuat perhatian mereka terhadap kitab suci ini sangat besar sejak mereka kecil sebagaimana hal itu sudah lumrah jika melihat pada biografi mereka. Demi melestarikan ciri khas Madrasah Hadramaut ini tergeraklah Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin Umar Abi Murayyim (w 822 H) mendirikan tempat menghafal al-Qur’an bagi anak-anak Tarim khususnya dan Hadramaut umumnya. Memadukan antara hafalan Al-Qur’an dengan pengetahuan ilmu syariat atau fiqih menjadi program utama bangunan yang tidak seberapa luas ini. Tujuan mencetak huffazh (penghafal-penghafal Al-Qur’an) sekaligus faqih (ahli fiqih) direalisasikan dengan mewajibkan peserta didiknya untuk menghafal bab ibadah dari kitab At-Tanbih, karya Al-Imam Asy-Syairozi, setelah mereka menyelesaikan hafal Al-Qur’annya, hingga kemudian Asy-Syekh Abdullah bin Abdurrahman Balhaj Bafadhl menulis kitab fiqih khusus untuk mi’lamah yang kemudian dikenal dengan nama Qubbah Abi Murayyim ini.

   Setelah sempat ditutup, Qubbah Abi Murayyim kembali dibuka di bawah pimpinan Al-Habib Sa’ad Al-‘Aydrus (w 1432 H) hingga hari ini. Berkali-kali dibuktikan bahwa hafalan Al-Qur’an menjadi sangat mudah di tempat ini. Ribuan penghafal Al-Qur’an, sebut saja di antaranya Al-Habib Umar bin Hafizh dan masih banyak nama ulama besar lainnya, menjadi bukti keberhasilan tempat yang walaupun tampak sederhana dan sempit, namun memiliki andil yang sangat besar dalam manhaj Madrasah Hadramaut. Keikhlasan pendiri serta para pengajar Qubbah ini menjadikan semakin bertambahnya jumlah calon huffazh yang akan meneruskan perjuang ulama Madrasah Hadramaut hingga dibuka beberapa cabang di berbagai sudut Kota Tarim demi kenyamanan dan kemudahan para peserta didik, seperti di Masjid Al-‘Ibadah di Aidid.

   Pada akhirnya, peran penting Mi’lamah Abi Murayyim tidak bisa dilupakan begitu saja dalam keberhasilan Madrasah Hadramaut, yang berpedoman : “Timbanglah setiap amalmu dengan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah”, dalam penyebaran Islam yang santun dan damai di Indonesia khususnya dan di seluruh penjuru dunia hingga saat ini.

*penulis adalah mahasiswa Universitas Alahgaff  Yaman tingkat 4.

Present by : Departemen Pendidikan dan Dakwah PPI Hadhramaut.

Posting Komentar Blogger

 
Top