poto

0
Sumber: https://rumahmoe.files.wordpress.com/2015/10/rumahmoe_wanita_tarim.jpg?w=736

Oleh: Aidil Ridhwan*

Agama Islam merupakan agama rahmat bagi kaum perempuan. Bahkan dalam Al Quran, salah satu surah Al Quran dinamakan dengan surah An-Nisak (kaum perempuan). Bicara tentang perempuan tentu berbeda antara satu negara dengan lainnya. Saya ingin berbagi pengalaman tentang perempuan di provinsi Hadhramaut, Republik Yaman. Di bumi para Auliya ini, masyarakatnya sangat menjunjung tinggi martabat dan hak-hak kaum Hawa. Hal itu terlihat jelas dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Sebut saja di kota Tarim, aktivitas sehari-hari perempuan setempat berkutat dengan mengabdi kepada Allah dan Rasulnya, belajar-mengajar, berkhidmat, serta menunaikan hak-hak mereka sebagai ibu bagi anak-anak dan istri bagi suaminya.

Dalam hal pakaian keseharian, mereka mengenakan baju serbahitam (dikenal dengan sebutan baju baluthu) yang menutupi seluruh tubuh serta bercadar. Yang terlihat hanyalah mata dan dua telapak tangan. Meski demikian tertutup, mereka tidak akan ke luar rumah kecuali bersama mahram atau bersama dua/tiga perempuan yang lainnya.

Di bidang pendidikan, aktivitas persekolahan di kota "Al Quran" ini tidak bercampur antara pria dengan perempuan. Seperti halnya gedung SD, SMP, dan SMA kaum lelaki berada di arah selatan, sedangkan kaum perempuannya di arah utara kampus Universitas Al-Ahgaff, tempat saat ini saya menuntut ilmu.

Berangkat sekolah pagi hari, mereka lebih memilih jalan yang tak dilalui pelajar lelaki. Bahkan mereka rela menunggu membiarkan kaum lelaki lewat lebih dulu. Fakta tersebut setiap hari saya saksikan ketika masih tinggal di luar Kampus Universitas Al-Ahgaff.

Begitu juga di pasar. Aktivitas jual beli didominasi oleh kaum lelaki. Saya tak pernah melihat seorang perempuan pun yang menjadi penjual barang dagangan di sini. Bahkan yang lebih uniknya, masyarakat Tarim mengkhususkan pasar bagi kaum perempuan, agar lebih leluasa bagi mereka ketika berbelanja kebutuhan khas perempuan.

Pasar khusus perempuan yang saya maksud itu berada di arah utara pemakaman Zanbal (pemakaman khusus bagi Saadah ‘Alawiyyin dan tempat dikuburkannya ribuan aulia Allah). Untuk keperluan memasak sehari-hari di rumah, perempuan Tarim tidak perlu repot ke pasar membeli kebutuhan dimaksud. Semua kebutuhannya menjadi tanggung jawab suami/anak yang laki-laki. Bahkan secara umum, segala aktivitas di luar rumah menjadi tanggung jawab kaum lelaki, sedangkan mereka bertindak sebagai “menteri” di dalam rumah.

Namun, hal itu bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk beraktivitas di luar rumah, dinamika sosial sesama kaum perempuan menjadi lebih erat dengan adanya aktivitas keagaman bersama seperti pembacaan selawat Burdah, hadhrah Basaudan, jalsah pada hari Senin, zikir jamaah, serta pengajian mingguan yang berlangsung di rumah perkumpulan khusus perempuan.

Memang nyata, warga Tarim sangat menjunjung tinggi martabat kaum perempuan. Hal itu juga terlihat dari adab dan etika berinteraksi dengan mereka, baik di rumah maupun di jalanan.  Di jalanan, merupakan aib (celaan) bagi kaum lelaki jika berjalan di belakang perempuan. Hal itu bertujuan agar terhindar dari pandangan mengandung syahwat atau hal-hal negatif lainnya. Konon lagi sampai nekat melakukan tindakan pelecehan terhadap kaum hawa tersebut.

Anda boleh saja heran dengan sikap warga setempat terhadap kaum perempuannya. Namun, bagi perempuan Tarim, ini merupakan adat dan tradisi yang sangat memberikan nilai positif dalam kehidupan mereka. Hal yang sama juga diungkapkan Perwakilan Forum Kaum Perempuan Tarim melalui telepon selulernya ketika diwawancarai Radio pesantren Darul Musthafa beberapa waktu lalu.

Karena kuatnya mereka dalam menjalankan ajaran Islam, meskipun hidup dalam kesederhanaan, namun kehidupan mereka jauh lebih tenang daripada “perempuan-perempuan dunia bebas” umumnya. Oleh karenanya, hampir tiga tahun berada di kota tua ini, saya tak pernah mendengar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perampokan, penindasan, apalagi pelecehan seksual terhadap kaum perempuan. Baik di sekolah, pasar-pasar maupun di jalanan. Begitulah hasilnya ketika syariat Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Yach, begitulah sekelumit tentang perempuan di Buni Auliya ini, semoga memjadi teladan bagi semua perempuan di dunia. Mari hormati perempuan. Selamat hari perempuan se-dunia, 08 Maret 2017!

*Mahasiswa di Univ. Al Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman.

Posting Komentar Blogger

 
Top