poto

0


By : M. Mulyono*

Kawan,
Masih ingatkah ketika kita berada di pelabuhan
Jauh-jauh mengumpulkan perbekalan
Mulai dari jiwa, raga, dan sandangan
Agar bisa sampai ke tujuan
Atau jangan-jangan bekalmu telah tenggelam
Tenggelam ditelan oase keduniawian
Yang kau kira sebuah kesenangan
Ternyata hanya fatamorgana belaka
Hanya bayangan air di tengah gurun pasir

Kawan,
Lupakah kau dengan sebuah pesan
Yang tersulam dari kasih sayang
Ketika itu orangtuamu menyampaikan
“Nak, yang sabar ya. Biar sampai tujuan”
Sebuah pesan dengan penuh harapan
Dan saat itu kau hanya mengangguk dengan sopan
Tapi, sekarang sudah tak terbukti lagi
Dimana tapak kaki yang gagah nan berani
Dimana doa mentari yang katanya sakti

Kawan,
Sudah hilangkah memori cerminanmu
Lenyapkan pahatan para kyaimu
Ketika itu kau sudah tau
Inti pesan para guru-gurumu
Sekarang mana hasil pahatan itu
Mana hasil mondok bertahun-tahunm
u
Mungkinkah artis TV menggantikan memorimu
Dan pelawak menghaluskan pahatan itu
Hanya tersisa hati yang kaku

Kawan,
Sekarang memang masih pagi
Dan perang baru dimulai
Namun senja pasti menghampiri
Dan pemenang akan duduk di tahta yang tinggi
Tak ingin kah kau menjadi pemenang
Yang membawa piala emas, perak, dan logam
Jika kau mau, silahkan
Tapi dengan sebuah persyaratan
Tinggalkan kesenangan dan PS an
Susun kembali harapan yang terbuang
Rangkai lagi memori cerminan
Lakukan apa yang guru perintahkan
Dengan kehendak Allah yang maha mengabulkan
Kau akan beruntung dan menang

(coretan tangan untuk Tholibul ilmi yang kehilangan tujuan)

*Penulis seorang Pelajar di Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman berasal dari Jawa Tengah.

Posting Komentar Blogger

 
Top