poto

0

By: Rumaisah Murobbiyah Aulia’*

   Kakek tua itu sedang berdiri menghadap salah satu sisi gubuknya yang sengaja diberi lubang sebagai sarana pergantian udara. Tubuhnya masih tegap, luka beberapa waktu silam itu sepenuhnya telah mengering. Ia rasakan silir-silir angin lembut beraroma pantai tiada henti menimpa kehampaannya. Pandangannya terbuang jauh, dan sekosong pikirannya yang sedang berlabuh pada suatu perihal. Sayup-sayup diantara lamunannya ia mendengar ombak laut yang sedang bergemuruh menambah pekat suasana hatinya yang bagai tak pernah lagi disinari mentari.
   Lagi-lagi aku benar, dalam pikirannya, ada Ara sedang berlarian di pantai dengan tawa khasnya yang membuat seluruh gigi gerahamnya tampak. Ia sedang bermain bersama kawan-kawannya di tepi pantai, sekop plastik mainan dan tiga ember plastik yang sudah bocor sana-sini dengan ukuran yang berbeda untuk membuat istana kecil dari pasir pantai. Tangan-tangan kecil yang lincah memainkan pasir setengah basah agar itu seperti tiada kenal lelah. Pun kedua pasang kakinya yang turut membantu menepuk tumpukan pasir  yang sudah ia bentuk sedemikian rupa sebagai pondasi istana.
   Tiada seorang pun tinggal bersama kakek selain Jarwo, seekor kucing yang ia temukan di jalanan sekitar tiga bulan lalu. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan sepulang menyerahkan naskah ke sebuah penerbit menuju rumah lamanya. Di tengah perjalanan ketika sedang melewati sebuah gang kecil, ia mendengar rintihan kucing yang sangat lirih. Dicarinya sumber rintihan tersebut dan ia dapati seekor anak kucing terpeleset ke dalam selokan. Tanpa berpikir panjang, segera ia ambil kucing itu dari selokan untuk ia rawat di rumah.
   Oh iya, perkenalkan, panggilanku Bam –dan akhir-akhir ini aku tahu itu adalah kependekan dari Bambang ketika Bu Priyo tak sengaja memanggilku dengan nama itu sehingga membocorkan nama yang entah mengapa Mbah Suryo rahasiakan dariku dan entah dari mana Bu Priyo tahu nama itu. Kami semua tinggal di sebuah tempat paling menyenangkan di dunia. Sebuah tempat dimana semua tokoh dari dongeng-dongeng ciptaan Mbah Suryo berkumpul.
   Sebuah tempat teramat luas yang di dalamnya terdapat labirin-labirin beribu cabang yang pada setiap ujung lekukannya adalah ruang tinggal bagi seluruh tokoh dari sebuah dongeng, dan setiap ada dongeng baru, akan muncul cabang lekukan labirin baru. Hal paling menyenangkan –bagiku dari tempat ini adalah sebidang lapangan besar yang dapat memuat seluruh penduduk, dimana kami dapat melihat bahkan merasakan apapun yang sedang kakek alami dari sebentuk layar lebar.
   Tiga bulan lalu ruang tinggalku baru saja Mbah Suryo selesaikan. Aku tinggal sendiri, sebab di sana tertulis bahwa aku adalah seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara. Aku tinggal di bagian paling ujung yang berbatasan langsung dengan lapangan besar. Sebelah utara dari ruang tinggalku merupakan rumah Bu Priyo. Sebelah timur ada rumah si kembar Joko Jaki, selatan si bujang pengangguran Aryadi, dan barat, sebuah cabang baru yang ujungnya masih kosong.
   Dua pekan setelah Mbah Suryo menyelesaikan kisahku, tumbuh sebuah cabang labirin baru di barat rumahku. Waktu berlalu dan dari cabang itu mulai terlihat siapa calon penghuninya. Ara. Nama yang begitu indah bagi kami. Semua orang bergembira atas kabar baik tentangnya. Aku pun semakin tidak sabar mempunyai teman bermain baru, seorang gadis kecil periang meski ia harus kehilangan penglihatannya sejak kecil. Setiap hari kami berkumpul di lapangan besar untuk mencari tahu tentangnya. Ya, semua orang, setiap hari sampai sebuah tragedi memilukan terjadi.
   Sudah lama Mbah Suryo ingin tinggal di tepi pantai di daerah pinggiran kota, merasakan nyanyian ombak dan daun kelapa ditemani semilir angin beraroma amis khas laut yang segar sambil menumbuhkan cabang labirin dongengnya. Ia kumpulkan lembar demi lembar hasil buah pikirannya dari penerbit hingga akhirnya ia berhasil membangun sebuah gubuk sederhana nan nyaman di tepi pantai.
   Sore itu ia berjalan sambil menenteng tas pakaian terakhir menuju mobil bak yang sudah penuh oleh barang-barangnya. Di belakangnya, Jarwo berlarian kecil berusaha mengimbangi langkah kakek. Baru beberapa langkah ia berjalan, tak disangka sebuah mobil melintas cepat dari arah timur. Mbah Suryo yang sudah kehilangan kesigapannya pun jatuh terguling-guling di tanah sambil memeluk tas pakaiannya hingga ia berhenti tertambat tiang listrik, sekitar dua meter dari tempat berdirinya semula. Kepalanya terbentur tiang listrik, seluruh kekuatannya hilang.
   Dengan seluruh yang tersisa ia berusaha mengerjapkan kedua matanya, mencari-cari Jarwo yang mengkhawatirkannya. Namun hasilnya nihil, ia tak menemukan apapun dalam penglihatannya. Hanya gelap yang ia rasakan. Jarwo menjerit sejadinya di telinga kiri Mbah Suryo yang telah kehilangan penglihatannya.
Sejak saat itu semua orang enggan berkumpul lagi di lapangan besar. Mereka tak tega melihat kondisi Mbah Suryo yang setiap hari semakin kehilangan semangat hidupnya. Bukan kisah Ara yang tak berujung yang paling kami sesalkan –sungguh bagaimanapun Ara sudah melakat pada hati kami, mengalir bersama darah kami, melainkan rasa penyesalan karena kami tak dapat berbuat apa-apa untuknya.
   Setiap hari aku masih mendatangi lapangan besar, memantau bagaimana kondisi Mbah Suryo sambil memikirkan benar-benar tiadakah jalan bagi kami meredam kesedihan Mbah Suryo. Andai saja aku bisa masuk ke dalam tubuh Jarwo, apapun kulakukan untuk merawat dan meredakan kesedihannya. Mbah Suryo akhirnya merasa apa yang dirasakan Ara. Dan betapa sulitnya menjadi gadis penyandang tunanetra yang senantiasa riang gembira seperti Ara.
   Suatu pagi ketika aku sedang berada di lapangan besar, aku melihat Jarwo mengeong sambil kaki depannya menggerakkan badan Mbah Suryo yang tampaknya tedang tertidur. “Sudahlah Jarwo, biarkan Mbah beristirahat,” ujarku kesal padanya dalam hati.
   Tapi lama kelamaan aku merasa ada hal tidak beres terjadi. Deg! “Mengapa ia tak kunjung bangun dari tidurnya?” Aku bergegas lari dan mengetuk pintu Bu Priyo untuk memberitahukan ini padanya. Kabar ini seketika menyebar ke seluruh penjuru labirin hingga semua orang kini berkumpul di lapangan besar. Labirin dongeng Mbah Suryo dihujani tangisan. Penciptanya sudah tiada.
   Semua orang menangis juga terheran-heran, “Mengapa kami tak pergi juga bersamamu, Mbah? Sudikah kiranya engkau maafkan kami yang tak mampu berbuat apa-apa ini? Kami harap cukup bagimu dengan kami selalu hidup memberi pelajaran bagi para penikmat dongengmu, Mbah Suryo kami.”

***

______________
*Biodata Penulis:
Gadis bernama Rumaisah Murobbiyah Aulia’ ini sedang menyelesaikan S1 Studi Islam di Universitas Ibn Tofail, Kenitra, Maroko. Tiga tahun lalu ia meninggalkan rumahnya di Jl. A. Yani Pereng 124 Taman, Sepanjang, Sidoarjo untuk menuntut ilmu di negeri Seribu Benteng. Ia dapat dihubungi melalui email rumaisah.ma@gmail.com atau +212 627 254 551.

Posting Komentar Blogger

 
Top