poto

0



By: Mohamad Abdurro'uf*
 
Secara cerdas, baru-baru ini, aku telah membentuk persekongkolan ganjil antara diriku dengan logikaku. Persekongkolan tersembunyi. Sehingga, di dunia ini hanya aku yang boleh tahu. Bahkan, aku diam-diam merahasiakannya dari diriku sendiri.
Logikaku berkata bahwa, opini publik yang dibentuk secara struktural dan terarah, akan membentuk suatu pola yang diyakini semua anggota masyarakat. Maka, ketika setiap orang yang kau temui berkata, sarapan akan memenuhi semua kebutuhan nutrisi harian, kau akan meyakininya. Seperti kata orang sebelum masehi, bahwa bumi itu datar.
***
Desa Bet Jubn bukanlah desa yang gemerlap banyak lampu. Melainkan sebuah desa pelosok di tanah tandus Yaman. Bahkan kaktus tak bisa tumbuh. Terputus dari dunia luar. Listrik tak ada. Hei, bagaimana listrik mau ada? Desa ini lahir sebelum listrik ada. Maka, edarkan khayalmu pada abad enam hijriah. Pada saat itulah kisah ini bercerita.
Di Bet Jubn, hanya ada seorang alim. Tiada tanding sebab tak ada yang lain. Semua dakwah keagamaan diembannya semua. Permasalahan sengketa, keluarga, jampi-jampi sampai gumam mantra sakti dilakoninya semua. Masih banyak gangguan jin saat itu di Yaman. Maka tak jarang, setiap empat puluh hari sekali, penduduk desa berkumpul di masjid untuk sedekah keselamatan bersama. Penduduknya masih awam beragama.
Masjid Maula Jengkang menjadi masjid satu-satunya rumah ibadah dan pusat dakwah. Masjid itu sudah tua, tidak diketahui siapa yang membangun dan kapan didirikan. Empat saka penyangganya sudah reot. Sering berdecit ketika datang angin. Kayu luban di dinding dan langit-langitnya sudah lapuk. Seperti orang renta osteoporosis yang akan terjungkal tertiup angin. Menaranya luntur, karena dibangun dari tanah liat dan berulang kali terguyur hujan. Maka hanya perlu menunggu waktu, masjid itu akan runtuh.
Setiap pemilik nyawa akan bertemu ajalnya, begitu juga sang alim satu-satunya. Dia meninggal tanpa seorang pengganti. Kacaulah urusan agama desa itu. Khotbah Jumat kosong. Pengajian libur panjang. Maka penduduk desa berembuk mencari pengganti.
Ada seorang wanita salehah bernama Adawi. Keilmuannya mumpuni, bijaksana, lembut bertutur kata, halus berlaku tingkah. Nyaris disepakati bahwa Adawi akan menjadi pengganti juru dakwah. Namun, salah seorang penduduk mengingatkan, juru dakwah juga harus mengisi khotbah Jumat dan menjadi imam salat. Perkara masygul muncul. Akhirnya, pilihan jatuh pada suami Adawi, namanya Abu Lihyah.
“Maulah engkau memimpin urusan agama kami,” pinta penduduk ramai.
“Tapi aku tak bisa, tak fasih membaca Al-Qur’an dan kurang keilmuan”.
Dengan terpaksa, sebab kepepet tak ada yang lain, Abu Lihyah mau-mau-tempe menyanggupinya. Padahal apa yang dikatakannya benar-benar secara harfiah, dia tak bisa. Bukan tak mau. Juga bukan sebab merendah. Maka, tugas pertamanya, Jumat besok dia akan menjadi imam salat dan berkhotbah di mimbar masjid Maula Jengkang.
Tersebar berita bagai badai pasir musim panas, seperti normalnya berita beruntun, bahwa seorang alim baru telah hadir. Menguasai berbagai keilmuan. Sekarang, nama Abu Lihyah akan terkenal sebagai juru dakwah sakti mandraguna tiada saing.
Abu Lihyah mulai menghafal surat-surat pendek dan belajar berkhotbah dari Adawi. Dengan telaten, Abu Lihyah menguasi retorika khotbah dan hafal surat Al-A’la dan Al-Ghasyiah untuk mengimami salat. Pada saat Jumat tiba, dia naik mimbar. Dengan lancar sedikit gugup berkeringat, kaki gemetar, dia buat para jemaah terpukau.
Namun, setiap borok akan bernanah. Sekarang Abu Lihyah memimpin salat. Dia bertakbir dengan mantap. Suaranya berwibawa seperti kata berita. Rakaat pertama dia baca Al-A’la dengan lancar mendayu-dayu. Namun, saat berdiri di rakaat kedua, saat dia baca surat Al-Ghasyiah, dia lupa lanjutan ayatnya. Nanah pun tercium baunya.
“Alam tara ilal ibili kaifa khuliqat,” senyap. “Kaifa khuliqat,” dia ulang bacaannya. Deg. Dia mulai bingung. Keringat mengguyurnya. Dia berusaha mengingat lanjutan ayat, namun gelap. Nihil tiada hasil. “Wah, bakal gawat. Lebih baik aku kabur sekarang.”
Tiba-tiba, Abu Lihyah angkat gamis lalu berlari keluar sekencang-kencangnya. Kaki-kakinya saling kejar satu sama lain. Dia keluar dari masjid itu. Jemaah kebingungan. Bagaimana hukum salat yang ditinggal kabur imamnya. Salat mulai tak khusyuk. Mereka dibutakan oleh berita, mereka gelap mata. Mereka semua berlari keluar mengejar Abu Lihyah. Sekencang apa dia berlari, sekencang itu pula dia dikejar.
Tak dinyana-nyana, tak diduga-duga, setelah orang terakhir keluar dari masjid itu, angin kencang bertiup membawa butir-butir pasir dan batu. Angin menghantam masjid reot itu. Maka hanya ada satu kemungkinan, masjid itu pun rubuh.
***
Sekarang, aku sering berhati-hati pada berita yang belum kutahu benarnya. Barang kali, itu adalah semacam persekongkolan jahat lain di luar diriku. Maka, aku dan pikiranku akan mencari konfirmasi dengan semangat berjingkrak-jingkrak sebelum aku keliru melemparkan batu bukan pada pelakunya.
***
Semua penduduk terhenyak. Ternyata ini sebab sang imam berlari keluar masjid. Ya, Maula Jengkang runtuh menyatu dengan tanah lusuh. Sekarang, semua penduduk sepakat bahwa Abu Lihyah adalah wali kekasih Tuhan. Dia tahu apa yang belum terjadi. Inilah nanah yang tercium harum. Sambil berlarian, peraturannya berubah menjadi satu: dilarang berlari mendahului imam, barang siapa melakukannya, batal salatnya!
***


______________
*Biodata Penulis:
Nama        : Mohamad Abdurro'uf
Tempat, Tanggal Lahir          : Kudus, 9 Mei 1996
Alamat rumah         : Pasuruhan Lor, Jati, Kudus
Nomor Handphone           : +967 775 294 550
E-mail              : mohamad.abdurrouf@gmail.

Posting Komentar Blogger

 
Top