poto

0

*Sanad, warisan ulama kebanggaan umat Islam.*

Oleh : Muh. Faiq

Saat mengomentari kitab-kitab klasik Islam dalam cabang ilmu Hadits, para Orientalis Eropa seperti Margoliouth dan Sprenger, tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap metode sanad yang dimiliki umat Islam. Tak pernah terpikirkan oleh umat beragama mana pun, bangsa apa pun, untuk mengecek kebenaran sebuah berita secara kritis seperti dalam metode sanad. Disana terdapat metode dengan kaidah-kaidah detail yang mengagumkan. Itulah mengapa setiap kisah, perkataan, pembenaran dari peristiwa (iqror) Nabi Muhammad s.a.w bisa diteliti kevalidannya secara ilmiah, walaupun itu terjadi 14 abad silam.
Sanad sendiri terdiri atas para pewarta hadits (perawi) yang menukil sabda Nabi atau kejadian sejarah. Lalu sanad akan membentuk sebuah peta penukilan hadits. Mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut di dalam kitabnya, kemudian bersambung ke generasi sebelumnya, lalu ke generasi sebelumnya hingga sampai kepada orang (pelaku sejarah) yang behadapan langsung dengan Nabi Muhammad s.a.w. Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Sehingga pada akhirnya kita bisa menentukan, apakah ucapan yang di nukil perawi tersebut shahih (valid) atau dha'if (tidak valid). Dalam prakteknya, sudah jutaan perawi yang ada. Biografi mereka pun terekam oleh kitab-kitab klasik Islam. Di dalam biografi tersebut, terdapat fan ilmu lain yang masih berhubungan dengan sanad, yaitu ilmu jarh wa ta'dil. Ilmu ini berguna untuk meyeleksi hafalan dan kejujuran perawi dalam menyampaikan teks hadits. Berpijak dari sinilah nanti akan ada pengelompokan hadits, seperti hadits mutawatir, ahad (di dalamnya mencakup : sohih, hasan, dloif) atau maudlu' (hadits palsu).
Lalu bagaimana penggunaan sanad pada Al Quran? Soal ke-valid-an isinya, Al Quran sudah tidak memerlukan sanad. Karna sejak turunnya, Al Quran langsung dihafal dan ditulis oleh para sahabat. Kemudian dilakukan kodifikasi pasca wafatnya Nabi lewat proses yang sangat ketat. Setelah itu penukilannya pun di lakukan oleh ribuan orang dari generasi ke generasi. Baik melalui hafalan maupun tulisan. Sehingga mustahil secara akal, ribuan orang tersebut bersepakat untuk merubah isi Al Quran. Adapun mengenai tata cara membaca Al Quran metode sanad tetap digunakan.
Demikianlah, betapa kritis dan selektifnya para sahabat dan ulama terdahulu. Sehingga, berkat usaha mereka, tidak ada celah sedikit pun bagi yang ingin melakukan penyesatan ke dalam ajaran Islam. Betapa berharganya warisan ilmu sanad ini. Karna jika tidak, laqola man syaa ma syaa, akan berkata siapa pun (di dalam masalah agama) apa pun semau dia. Wallahua'lam

Posting Komentar Blogger

 
Top