poto

0
Catatan Notulen dalam Diskusi Panel Peringatan Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan



A. Teknis

Penyelenggara : PPI Yaman, PCINU Yaman, FMI Yaman, PPI Hadhramaut dan Ami Ahqaff

Hari/tanggal : Kamis, 15 November 2018

Waktu : 20.30 KSA - 23.00 KSA.

Tempat : Qoah Kubro universitas Al-Ahqaff

Tema : “Peran Kaum Sarungan dalam Melanjutkan Estafet Para Pahlawan.”

Moderator : Syauqi Muhdhor B.Sc

Jumlah peserta : PCINU 2 wakil (Midad Al-hamidi, Ahmad Subhan). Veteran 2 wakil (M. Shultoni dan Subhan Muarif). Da’i 2 wakil (Maulana kamal dan Taufan). Aktivis 2 wakil (Bayu Maulana dan A. Reza Maulana). PPI 2 wakil (Izuddin B.sc dan Yuda Pranata). Budayawan 2 wakil (Rizki Daniel dan Abdurrahman), FMI 2 wakil (Syarif Hafidz Qodri dan Fakhrurizal). Hadirin/penonton kurang lebih 50 orang.

B. Catatan Sepanjang Acara

1. Prolog dari moderator : mengutip perkatan KH. Sahal Mahfudz bahwa santri merupakan singkatan dari Satr auroh untuk huruf S, naib ulama untuk huruf N, tark maashi untuk huruf T, dan roisul umah untuk huruf R.

2. PCINU Yaman, memberikan pengertian bahwa santri adalah mereka yang berkecimpung dalam bidang agama. Secara historis, santri memiliki peran penting dalam kemerdekaan seperti perang Paderi dan perang Diponegoro, juga termasuk berperan dalam konstitusi, pembuatan U-U.
3. Moderator memberikan pertanyaan pada budayawan mengenai kapan tepatnya Islam masuk ke pulau Jawa. Budayawan menjelaskan sudah banyak teori yang mashur. Mereka juga menyebutkan lima generasi Walisongo yaitu : 1. Syekh Jumadil Kubro. 2. Maulana Malik Ibrahim. 3. Maulana malik Ibrahim Samarqond. 4. Sunan Ampel, dan 5. Sunan bonang. Dari Walisongo, budayawan mengatakan bahwa santri sudah seharusnya memiliki life skil yang bisa diterapkan dalam masyarakat.

4. Moderator pada budayawan lagi; benarkah orang-orang jawa tidak terpengaruh pada budaya Hindu-Budha?. Budayawan mengutip Atlas Walisongo, mengatakan bahwa Hindu dan Budha hanya berpengaruh pada orang-orang tertentu seperti raja-raja. Sementara masyarakat umum, lebih condong biasa atau kepercayaan animisme dan dinamisme.

5. Perwakilan dai, ditanya mengenai dakwah yang relevan dewasa ini. Salah satu perwakilan menyebutkan bahwa saat ini sedang dilanda krisis keagaman. Solusinya adalah meninggalkan fanatik buta.

6. Saat ditanya mengenai peran santri untuk kedepannya, perwakilan aktivis menjelaskan kebutuhann masyarakat terhadap sinergitas serta tidak mempertajam perbedaan pendapat. Peran santri adalah memaksimalkan peran mereka sebagai pembelajar agama. Aktivis juga menyebutkan kekurangan santri adalah kurangnya profesionalisme.

7. PPI menjelaskan mengenai fenomena pergeseran Image santri. mereka memberikan solusi untuk meningkat kualitas santri itu sendiri.

8. FMI dalam kesempatannya, mengatakan bahwa saat ini Indonesia masih dijajah walaupun tidak secara fisik. Mereka menyebutkan ekonomi sebagai salah satu contohnya. Namun menurut perwakilan PPI, penjajahan pada masa kini hanya soal masalah persepsi pribadi manusia seperti sapi yang dilepas di padang rumput berpagar yang merasa nyaman dan wwaman walaupun dengan ada batasan dan manusia yang dipenjara namun masih bisa menulis kebebasan berfikir dan berkarya dengan segala keterbatasan.

9. Di sisi lain, para Veteran menceritakan nasib para veteran (dalam arti yang sesungguhnya) yang sudah berjuang membela negara, namun kini kurang diperhatikan negara.

10. PCINU Yaman, ketika ditanya mengenai peran santri dan ulama Yaman di Indonesia menyebutkan bahwa Walisongo merupakan orang-orang yang berasal dari Yaman. Dalam kemerdekaan Indonesia, ulama Yaman tidak hanya mempertahankan kemerdekaan secara fisik, namun juga secara batin. Selain itu, mereka juga menekankan perlunya bagi santri untuk adaptif atau up to date dalam menyebarkan keilmuannya.

11. FMI mengungkapkan peran santri saat ini adalah untuk mempertahankan persatuan NKRI. Hal tersebut dapat didapat dengan menyamakan persepsi mengenai “Siapa musuh kita” sebenarnya. Salah satu perwakilan FMI juga menyampaikan bahwa untuk memecah kesatuan, bukan hanya takbir yang bisa dijadikan kata provokatif. Bahkan, lanjutnya, NKRI harga mati apabila dijadikan slogan untuk memojokkan dan mengerdilkan jiwa nasionalisme mereka yang berbeda pemikiran juga bisa jadi kata provokatif.

12. Menanggapi pendapat FMI (dalam poin 11), PCINU berpendapat bahwa yang mesti kita takutkan bersama adalah adalah perpecahan di tubuh umat Islam. Karena dalam salah satu hadis, disebutkan bahwa yang ditakutkan nabi Muhammad adalah perpecahan tersebut.

13. Di akhir kesempatan, PCINU menambahkan bahwa peran santri adalah menebar kedamaian melalui kaidah-kaidah fiqhiyah. Senada dengan hal tersebut, FMI menutup dengan pesan dari Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun mengenai pentingnya persatuan.

C. Kesimpulan dan Catatan Notulen

Diskusi Panel Peringatan Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan 2018 ini berjalan dengan hangat dan seru. Pendapat dan pandangan-pandangan panelisnya cukup berbobot dan beragam. Memang, tidak bisa dipungkiri –sebagaimana yang disampaikan oleh banyak panelis yang hadir, pertanyaan-pertanyaan moderator terkadang terlalu melebar atau jauh dari tema awal yang diangkat. Namun harus diakui pula, pertanyaan tersebut mengandung faedah dan tentunya, membuka wawasan baru.
Adapaun dari 13 poin di atas, agar sesuai dengan tema yang diusung, dapat diambil beberapa titik terpenting mengenai peran santri dalam melanjutkan estafet perjuangan para pahlawan. Di antaranya : menjaga kesatuan, menebar perdamaian, tidak mempertajam perbedaan, adaptif dalam berdakwah, meninggalkan fanatik buta serta fokus untuk memaksimalkan diri pada bidang yang santri geluti.

Tarim, 16 November 2018


Notulen

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar Blogger

 
Top