poto

0
 Dari kota Martapura, salah seorang ulama yang terkenal namanya bagi masyarakat Banjar ‎‎(Martapura) dan masyarakat Bangil (Pasuruan) khususnya, adalah Al-‘Alim Al-Fadhil Syekh Muhammad Syarwani bin ‘Abdan bin Yusuf bin Ahmad bin Sholih bin Thohir bin Syamsuddin bin Sa’idah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari.


Seorang ulama yang alim dan tawadhu’. Keluasan dan ketinggian ilmu beliau diakui, sehingga ‎banyak orang yang belajar dan menuntut ilmu kepada beliau, termasuk pula para kiyai yang ada di ‎Kota Pasuruan, Bangil dan sekitarnya. Semasa hidupnya, beliau menjadi referensi bagi para guru agama ‎dan masyarakat dalam memecahkan berbagai permasalahan keagamaan. ‎

Beliau dilahirkan di Kampung Melayu Ilir Martapura. ‎Tidak diketahui secara pasti kapan tanggal kelahiran beliau, dari beberapa catatan yang ada hanya ‎dituliskan tahun kelahiran beliau 1915 M/1334 H.‎

Guru Bangil terlahir dari keluarga yang agamis dan dikenal luas oleh masyarakat Martapura sebagai ‎‎‘keluarga alim.  Ayahnya bernama H. Muhammad Abdan bin H. Muhammad Yusuf, sedangkan ‎ibunya bernama Hj. Mulik. Guru Bangil mempunyai 7 orang saudara kandung: H. Ali, Hj. Intan, Hj. Muntiara, Abd. Razak, Husaini, Acil, dan H. ‎Ahmad Ayub. Selain mempunyai saudara sekandung yang berjumlah 7 orang, Guru Bangil juga mempunyai ‎saudara seayah, di antaranya adalah Abd. Manan dan H.M. Hasan.‎
Syekh Syarwani Abdan atau yang lebih ‎akrab dipanggil dengan sebutan Guru Bangil adalah cicit buyut dari ulama terkenal di seantero Asia ‎dan Saudi Arabia‎ Syekh Arsyad Al-Banjari(Datuk Kelampayan) yang dikenal aktif berdakwah dan berjuang tanpa pamrih.Beliau sendiri juga merupakan kerabat dari Ulama Karismatik Banjar KH.Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani(Guru Sekumpul).

Menurut silsilahnya, Guru Bangil merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ‎dari istri Al-Banjari yang kedua, yang bernama Tuan Bidur. Moyang Guru Bangil yang bernama ‎Sa’idah adalah anak dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Tuan Bidur. Sa’idah memiliki ‎saudara tiga orang, yakni ‘Alimul ‘Allamah Qadhi H. Abu Su’ud, ‘Alimul ‘Allamah Qadhi ‎H. Abu Na’im, dan ‘Alimul ‘Allamah Khalifah H. Syahabuddin.‎

Keilmuan dan kiprah keagamaan beliau telah memberikan sumbangsih besar ‎terhadap ‎pembangunan mental spiritual umat, tidak hanya di daerah kelahiran beliau Kota ‎Martapura dan ‎sekitarnya, akan tetapi juga di Kota Bangil (Pasuruan).‎ Karenanya, bagi ‎masyarakat Banjar dan masyarakat Bangil, nama Guru Bangil, ‎pendiri Pondok Pesantren Datu ‎Kalampayan di Kota Bangil Kabupaten Pasuruan Jawa Timur ‎tidaklah asing lagi‎.‎

Sejak kecil beliau sudah terbina ‎iman tauhid dan hati yang bersih untuk bermunazat kepada Dzat Yang Maha Agung dan Suci.‎ Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama yang dirasakan oleh Guru Bangil. ‎Berdasarkan catatan H. Abu Daudi dalam bukunya, “Maulana Syekh Muhammad Arsyad ‎al-Banjari: Tuan Haji Besar”, sejak kecil Guru Bangil sudah dikenal sebagai seorang yang memiliki ‎himmah kuat untuk belajar dan menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Beliau dikenal sebagai ‎anak yang rajin dan tekun dalam belajar, sehingga disayangi dan disenangi oleh guru-guru beliau. ‎Terlebih-lebih beliau berasal dari dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang agamis dan ‎‎kota “Serambi Mekkah”, Martapura.
Pendiri pondok pesantren datu kalampayan Bangil ini, pada usia mudanya mendalami ilmu agama di pondok pesantren Darussalam martapura pimpinan syekh Kasyful Anwar Al-Banjari yang merupakan paman beliau sendiri.Beliau juga belajar dengan para Alim Ulama terkenal lainnya di Kota Martapura.‎

Dari sejumlah ulama besar yang hidup pada waktu itu, antara lain kepada ‘Alimul Fadhil Qadhi H.M. Thaha, dan ‘Alimul Fadhil ‎H. Isma’il Khatib Dalam Pagar, Martapura.‎Beliau juga pernah belajar ilmu agama dengan Guru Mukhtar Khatib, di mana menurut cerita yang ‎berkembang, beliau belajar sambil mengayuh jukung (perahu).

Setelah cukup banyak belajar ilmu agama di Martapura, Guru Bangil pada usia yang masih muda berkeinginan untuk menuntut ilmu dan mendapati Kota Bangil sebagai ‎tujuan memperdalam ilmu.Dengan meninggalkan daerah asalnya Martapura menuju pulau Jawa dan memutuskan untuk ‎bermukim di Kota Bangil.

Selama beberapa tahun di kota Bangil, beliau sempat belajar dan berguru pada ulama-ulama ‎terkenal di kota Bangil dan Pasuruan antara lain ‎KH. Muhdar Gondang Bangil, KH. Abu Hasan Wetan Angun Bangil, KH. Bajuri Bangil dan KH. ‎Ahmad Jufri Pasuruan.‎

Menginjak usia 16 tahun, Tuan Guru Syekh Syarwani Abdan Al Banjari dengan dasar keilmuan yang tinggi berangkat ke Tanah Suci Mekkah Al Mukarramah untuk menuntut ilmu kepada ulama besar di sana, bersama saudara sepupu beliau yakni Syekh Al-Mufassir walmuhaddits Anang Sya’roni Arif‎ dalam pengawasan dan bimbingan penuh paman beliau sendiri yakni Al ‘Allimul ‘Allamah Tuan Guru Muhammad Kasyful Anwar yang pada saat itu juga sedang bermukim di Mekkah.

Selama di Mekkah, Guru Bangil menuntut berbagai cabang ilmu agama dengan beberapa orang guru, di antaranya adalah kepada  ‘Alimul ‘Allamah Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Syekh Umar Hamdan, dan ‘Alimul ‘Allamah H. Muhammad Ali bin Abdullah Al-Banjari.Di samping itu, Guru Bangil juga belajar dan mengkaji ilmu kepada Syekh Sayyid Alwi al-Maliki, Syekh Muhammad Arabi, Syekh Hasan Massyath, Syekh Abdullah Bukhori, Syekh Saifullah Andagistani, Syekh Syafi’i Kedah, Syekh Sulaiman Ambon, dan Syekh Muhammad Ahyad Al-Buguri Al-Batawi. Abu Nazla menambahkan bahwa selama di Mekkah, Guru Bangil dan Guru Anang Sya’rani Arif juga belajar kepada Syekh Bakri Syatha dan Syekh Muhammad Ali bin Husien al-Maliki.
Beberapa tahun bermukim di Mekkah,berbagai cabang ilmu agama telah dikaji dan dipelajari oleh Guru Bangil. ‎Banyak pula silsilah sanad, ilmu dan amal yang beliau terima. Salah satu cabang ilmu yang ‎menonjol yang dikuasai oleh Guru Bangil adalah ilmu tasawuf. Di bidang ilmu tasawuf ini, Guru ‎Bangil telah menerima ijazah tarekat Naqsabandiyah dari ‘Alimul ‘Allamah Syekh Umar ‎Hamdan dan ijazah tarekat Sammaniyah dari ‘Alimul ‘Allamah H. Muhammad Ali bin Abdullah ‎al-Banjari. Ijazah tarekat Idrisiyah diterima dari ‘Alimul ‘Allamah Syafi”i bin Shalih ‎al-Qadiri.

Beliau dikenal sebagai murid utama dan khalifah dari guru besar bidang tasawuf, Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi untuk Tanah Jawa (Indonesia). Dari Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi inilah Guru Bangil banyak belajar dan mengkaji ilmu, khususnya tasawuf.Tidak mengherankan jika kemudian Guru Bangil menjadi seorang ulama yang wara, tawadhu’ dan khumul, hapal Al Quran serta menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat.

Guru Bangil juga merupakan salah seorang guru tasawuf dari ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. ‎Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau hangat disapa dengan sebutan  Guru Sekumpul.
Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari dan Al ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Anang ‎Sya’rani Arif dikenal oleh gurunya sebagai murid yang tekun dan menghabiskan waktunya ‎untuk menuntut ilmu agama.”Guru-guru mereka sangat sayang karena melihat bakat dan kecerdasan ‎mereka berdua”,demikian yang tergambar dalam Manaqib Guru Bangil berkenaan dengan ‎semangat dan ketekunan dua saudara sepupu tersebut dalam dan selama menuntut ilmu.
Keadaan dan ketekunan mereka berdua selama menuntut ilmu di Mekkah juga diibaratkan, “Siang ‎bercermin kitab dan malam bertongkat pensil”.Sehingga wajar jika kemudian dalam beberapa ‎tahun saja mereka berdua mulai dikenal di Kota Mekkah dan mendapat julukan “Dua Mutiara dari ‎Banjar”. Bahkan mereka berdua mendapat kepercayaan untuk mengajar selama beberapa tahun di ‎Masjidil Haram (Mekkah) atas bimbingan Syekh Sayid Muhammad Amin kutbi.

‎ Setelah Lebih dari 10 tahun lamanya menimba ilmu di tanah suci Makkah al-Mukarromah, Al ‎Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari dan Al Alimul Allamah Tuan Guru Anang Sya’‎rani Arif Al Banjari pulang ke Indonesia pada tahun 1941. Setelah berada di tanah air beliau menggelar pengajian ‎majelis ta’lim di rumah dan mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Sekembali dari Kota Mekkah al-Mukarramah, Guru Bangil pernah ditawari untuk menduduki ‎jabatan Qadhi di Martapura, namun jabatan tersebut beliau tolak. Beliau lebih senang berkhidmat ‎secara mandiri dalam dunia pendidikan, dakwah, dan syiar Islam, di mana muthala’ah, halaqah ‎dakwah, ta’lim (mengajar), dan menulis (menghimpun) risalah menjadi aktivitas rutin beliau ‎sehari-hari.‎

Setelah kurang lebih berdiam selama 5 tahun di Martapura, Guru Bangil kemudian memutuskan untuk hijrah ke Kota Bangil pada tahun 1946 menyusul keluarga yang telah terlebih dahulu berdiam di sana.‎

Di Kota Bangil inilah, Guru Bangil dikawinkan dengan Hj. Bintang binti H. Abdul Aziz ketika ‎berusia lebih dari 30 tahun. Hj. Bintang masih terhitung dan memiliki hubungan keluarga dengan ‎beliau, karena Hj. Bintang adalah anak paman beliau, yang berarti saudara sepupu. Dari ‎perkawinannya dengan Hj. Bintang binti H. Abd. Aziz ini, Guru Bangil mendapatkan beberapa ‎orang anak, di antaranya: KH. Kasyful Anwar, Zarkoni, Abd. Basit, Malihah, dan Khalwani.‎
Setelah isteri beliau yang pertama (Hj. Bintang) meninggal dunia, beliau kemudian kawin lagi ‎dengan Hj. Gusti Maimunah. Dari perkawinannya dengan Hj. Gusti Maimunah ini beliau ‎mendapatlan beberapa orang anak lagi, di antaranya adalah Hj. Imil, Noval, Didi, Yuyun, dan ‎Mahdi.

Isteri beliau yang ketiga adalah Hj. Fauziah. Dari perkawinan dengan Hj. Fauziah ini, beliau ‎mendapatkan beberapa orang anak pula, di antaranya adalah M. Rusydi, Abd. Haris, dan ‎Busra.Menurut keterangan Ustadz H. Mulkani jumlah anak beliau keseluruhan adalah 28 orang.‎

KH. Kasyful Anwar, anak Guru Bangil dari perkawinan beliau dengan Hj.Bintang  yang merepukan anak tertua beliau inilah yang menjadi generasi penerus dalam melaksanakan ‎aktivitas pendidikan dan dakwah serta pengelolaan Pondok Pesantren Datu Kalampayan di Kota ‎Bangil hingga sekarang. Di samping itu beliau juga tercatat sebagai seorang dosen tetap pada ‎Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.‎

Sewaktu di Kota Bangil, Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari tidak mau membuka pengajian dikarenakan begitu tawadhunya beliau dan menyadari bahwa Bangil bukan wilayah Beliau. Namun para Alim Ulama di Jawa Timur menyadari dan mengetahui ketinggian ilmu dan Waranya Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari,sehingga bagaimanapun beliau menyembunyikan ilmu dan amal beliau namun diketahui jua oleh Alim Ulama Jawa Timur.

Setelah beberapa tahun berdiam di kota Bangil, Guru Bangil mulai mengajar dan mengabdikan ilmunya secara luas kepada masyarakat setelah mendapatkan restu dari Kyai Hamid Pasuruan yang merupakan ulama Sepuh pada waktu itu.
Di samping muthala’ah dan membuka pengajian, Guru Bangil juga mendirikan sebuah pondok pesantren untuk kaji duduk ilmu-ilmu agama yang diberi nama “Pondok Pesantren Datuk Kalampayan” pada kurang lebih tanggal 27 Rajab 1390 H/sekitar bulan September 1970 an‎. Santri-santrinya kebanyakan berasal dari Kalimantan, terutama dari Kalimantan Selatan. Diantara ‎santri yang pertama kali belajar belajar di Pondok Pesantren ini adalah Syekh Muhammad As’ad bin ‎Alimul Fadhil Qadhi H. Muahmmad Arfan Al Banjari Dalam Pagar Martapura.‎
Pondok Pesantren tersebut langsung ditangani sendiri oleh Guru Bangil. Beliau juga aktif dan tanpa ‎kenal lelah mengajarkan ilmu kepada para santri, sekalipun dalam keadaan sakit. Malam hari pun ‎diisi dengan berbagai kegiatan amaliyah, halaqah, dan muthala’ah. Sehingga, banyak para santri ‎beliau yang kemudian menjadi orang alim dan tersebar diberbagai daerah, baik di Kalimantan, Jawa, ‎Sumatera, dan lain-lain untuk meneruskan perjuangan Islam. Di antara ‎waktu beliau banyak dihabiskan untuk mengajar, muthala’ah, dan ibadah. ‎
Menurut santri-santrinya, Guru Bangil adalah sosok seorang guru yang bisa memahami dengan baik ‎kemampuan, karakter dan bakat santri-santrinya. Sehingga mereka merasa dididik sesuai dengan ‎kemampuan mereka masing-masing.‎

Di samping menguasai ilmu pengetahuan agama yang dalam, Guru Bangil juga mempunyai keahlian ilmu bela diri(silat). Keahlian dalam ilmu bela diri ini juga Beliau ajarkan kepada santri-santrinya sebagai bekal bagi mereka untuk berdakwah melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Salah seorang santri beliau yang mewarisi dengan baik ilmu bela diri ini adalah (Alm.)Guru Masdar Balikpapan.
Di luar pengajaran beliau di pondok pesantren, beliau juga membuka mejelis-majelis ilmu untuk masyarat. Dalam mengajar, Guru Bangil biasanya tidak panjang lebar menjabarkan dan menjelaskan suatu ‎permasalahan, beliau hanya menyampaikan apa yang ada dalam kitab dan telah dibahas secara ‎panjang lebar oleh ulama penulis kitab. Sehingga, ketika ada yang bertanya atau mengajukan suatu ‎permasalahan, beliau menjawabnya tidak dengan pendapatnya sendiri, tetapi beliau tunjukkan dan ‎mengutip dari pendapat para ulama dengan menyebutkan kitab-kitabnya.‎
Guru Bangil juga aktif menulis berbagai risalah agama berupa pelajaran dan pedoman praktis dalam ‎memantapkan keyakinan dan amaliah beragama masyarakat. Satu di antara risalah beliau yang ‎sangat terkenal, dicetak, dan beredar secara luas di tengah-tengah masyarakat adalah buku yang ‎berjudul “Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli Al-Istiqamah” (Simpanan berharga bagi orang yang istiqomah). Risalah ini berisi pembahasan tentang ‎masalah talqin, tahlil, dan tawassul.‎

Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli Al-Istiqamah adalah salah satu karya tulis Guru Bangil yang paling ‎populer, karena pembahasan yang ada di dalamnya. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun ‎‎1967. Buku ini juga pernah berhenti dicetak karena ada oknum yang ‎memperjualbelikannya untuk mengambil keuntungan pribadi, sedangkan Guru Bangil tidak mau karya beliau ini ‎diperjual belikan.

‎“Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”.

Setelah sekian banyak ‎mencetak kader ulama dan berkhidmat dalam dakwah, meningkatkan ilmu dan amal bagi ‎murid-murid dan masyarakat luas.Akhirnya pada hari senin malam selasa tanggal 13 Shofar 1410/ 11 September 1989, sekitar jam ‎‎19.00 beliau dipanggil kepangkuan Allah SWT diusia ke 74 tahun, dimakamkan di pemakaman Al-Haddad di Dawur, Kota Bangil‎, dekat Qubah ‎Makam Al Habib Muhammad bin Ja’far al-Haddad.‎ Makam beliau sering ‎diziarahi oleh masyarakat Muslim dari berbagai penjuru daerah, tak terkecuali dari Kalimantan ‎Selatan.

Guru Bangil sendiri banyak meninggalkan contoh yang patut untuk diteladani, beliau meninggalkan kebaikan yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar dan Bangil terasa sangat luar biasa. Untuk memperingati dan mengingat jasa-jasa beliau, serta untuk mengikuti jejak dan perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam, saban tahun, yakni setiap tanggal 12 Shafar diadakan haul. Guru Bangil, yang selalu dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai, terutama jamaah dari Kalimantan serta murid-murid beliau.

CERITA TENTANG KETAWADHUAN DAN KEWARAAN SYEKH SYARWANI ABDAN

Siapa yang tidak mengenal ketawadhuan dan kearifan Beliau dalam menegakkan Dakwah Islam dan ‎menyejukkan jutaan hati Hamba Allah agar selalu Mengingat-NYa. Sungguh Orang yang berjalan ‎untuk mencari ilmu dan mendatangi Majelis Ilmu yang beliau pimpin mendapatkan karunia ‎dari-Nya.‎

Guru Bangil di mata guru-gurunya memang dikenal sebagai seorang murid yang cerdas, namun ‎beliau sendiri tidak mau menampakkan kecerdasan tersebut, beliau selalu sederhana dan bahkan ‎merendahkan hati, sehingga banyak orang yang tidak tahu tentang beliau. Cerita tentang kedatangan ‎beliau di Bangil dan tidak mau membuka pengajian karena penghormatan terhadap ulama yang ada ‎di sana merupakan bukti kuat bahwa beliau adalah seorang yang tidak suka menyombongkan diri, ‎sebaliknya bersikap hormat dan selalu rendah hati. Bahkan untuk menutupi ketinggian ilmunya ‎setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di Mekkah, selama tinggal di Bangil beliau menutupi diri ‎dengan menjadi pedagang. Beliau juga tidak merasa kecil hati untuk belajar dan menuntut ilmu ‎kepada para ulama yang ada di Kota Bangil dan Pasuruan.‎

Menurut cerita salah seorang dari muridnya, dalam salah satu tausiyahnya (agar tidak sombong) Guru Bangil juga pernah berkata dan menyatakan bahwa beliau bukanlah orang cerdas sebagaimana yang disangkakan orang, beliau hanya rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga etika belajar, hormat dengan guru dan tawakkal kepada Allah.

Guru Bangil adalah seorang yang pandai menyembunyikan diri (tidak suka pamer, sombong, atau takabbur), walaupun memiliki ilmu agama yang luas. Selama menuntut ilmu di Mekkah sampai mendapat julukan “Mutiara dari Banjar”, pernah mengajar di Masjidil Haram, namun beliau tetap rendah hati dan sederhana, sehingga di awal-awal berdiamnya beliau di Kota Bangil, banyak orang yang tidak mengetahui siapa beliau sebenarnya, kecuali sesudah diberitahu oleh Kyai Hamid yang merupakan Kyai Sepuh di Kota Pasuruan.

Diantara bukti dari kewaraan  Guru Bangil adalah enggannya beliau untuk karya tulisnya diperjual-belikan, itulah sebabnya beberapa risalah yang ‎beliau himpun hanya ditulis dan beredar secara terbatas, karena tidak dicetak. Buku Al-Dzakhirat ‎al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah yang tersebar secara luas itupun beliau izinkan untuk dicetak atas ‎amal jariyah seorang donator, sehingga dibagikan secara gratis kepada masyarakat.‎

Dalam masalah kehidupan Guru Bangil dikenal sebagai seorang ulama yang sangat zuhud. Beliau ‎pernah diberi hadiah mobil dan rumah mewah, tetapi semua itu ditolak beliau. Sampai meninggal ‎dunia beliau tidak meninggalkan harta kepada anak cucu beliau. Beliau sangat hati-hati dalam hal-hal ‎keduniawian.
Menurut pengakuan Abah Guru Sekumpul, Guru Bangil mempunyai kepribadian yang sangat ‎sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga tidak banyak yang tau bahwa beliau adalah ‎seorang ulama besar. Berpakaian sangat sederhana, bahkan beliau tidak mempunyai lemari pakaian ‎khusus dan ranjang di kamarnya, pakaian beliau hanya numpang di bagian lemari kitabnya. Beliau ‎ulama yang telah mengambil jalan Khumul, yaitu menjauh dari keramaian, tidak suka dan berharap ‎kepada kemasyhuran/ketenaran. Sampai-sampai Syekh KH.Abdul Hamid Pasuruan mengatakan: ‎‎“Saya ingin sekali seperti KH.Syarwani, dia itu alim tapi mastur (tertutup/tersembunyi), tidak ‎masyhur. Kalau saya sudah terlanjur masyhur, jadi saya sering kerepotan karna harus melayani ‎banyak orang/tamu. Menjadi masyhur itu tidak mudah, bebannya berat. Kalau KH.Syarwani itu ‎enak, jadinya tidak banyak didatangi orang”‎
Pernah Suatu ketika sekelompok ulama/kiayi berkumpul dan hendak memperdalam ilmu agama ‎kepada KH.Abdul Hamid, lalu beliau menolak dan menganjurkan untuk bertemu dengan KH.Bangil, ‎akhirnya mereka berangkat menuju rumah Kiyai Bangil dengan mempersiapkan sejumlah pertanyaan ‎untuk mengetahui seberapa dalam kah ilmu Guru Bangil itu. Ketika mereka sampai di rumah Guru ‎Bangil, sang guru sedang duduk sambil membaca sebuah kitab. Di awal pembicaraan dan sebelum ‎mereka mengajukan pertanyaan, guru bertanya lerlebih dahulu,:” Kalian kesini ingin bertanya ini ‎dan itu kan???????” sambil menunjuk kitab yang masih dibukanya itu.‎ Kejadian itu membuat kaget sekelompok kiyai itu dan mereka yakin bahwa guru bangil disamping ‎mempunyai ilmu agama yang luas juga mempunyai mata batin/kasyaf yang kuat. Setelah itu mereka ‎meminta guru untuk membuka majlis bagi mereka, namun beliau tidak langsung meng-iya-kannya, ‎tetapi menanyakannya kepada KH.Abdul Hamid dan setelah KH.Abdul Hamid menyetujuinya, baru ‎guru bangil memenuhi permintaan mereka untuk membuka majlis.‎

KIPRAH DAN PEMIKIRAN SYEKH SYARWANI ABDAN

Sebagai seorang ulama, beliau mampu memberikan solusi dan sekaligus memecahkan masalah di ‎masyarakat beliau. Hal ini terbukti ketika masyarakat hendak memperluas bangunan masjid di Kota ‎Bangil yang tidak mencukupi lagi untuk menampung jamaah. Sementara, ada kendala atau ‎permasalahan yang membuat ulama-ulama dan tokoh masyarakat Bangil pada waktu itu bingung ‎mencari solusinya, karena areal tanah yang hendak dijadikan perluasan masjid terdapat kuburan. ‎Maka, masyarakat pun akhirnya mereka meminta pendapat dan pemikiran Guru Bangil berkenaan ‎dengan masalah tersebut, apakah masjid bisa diperluas walaupun di atas tanah bekas kuburan atau ‎bagaimana? Dengan berpedoman kepada pendapat para ulama terdahulu Guru Bangil membolehkan. ‎Sehingga, berdasarkan pendapat Guru Bangil, masalah tersebut akhirnya dapat terpecahkan, sehingga ‎perluasan pembangunan masjid Bangil pun dapat diteruskan.‎

Buku beliau yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah ini ditulis oleh Guru Bangil atas ‎permintaan masyarakat Bangil karena adanya pernyataan-pernyataan dari tokoh-tokoh muda pemikir ‎agama yang kontradiktif dengan pemahaman keagamaan masyarakat pada waktu itu, dan sering ‎menganggap mudah (remeh) urusan agama, sehingga menimbulkan pertanyaan dan perbedaan ‎pendapat di kalangan masyarakat. ‎

Hal ini terlihat di dalam tulisan beliau yang tertera di ‎bagian penutup buku tersebut.‎ “Akhirnya tidak lupa penulis menasehatkan di sini agar angkatan-angkatan muda dari kalangan ‎umat Islam di Indonesia ini dalam rangka menilai suatu perkara agama itu, jangan anggap mudah ‎atau dipermudah, tapi hendaknya di-tanyakan langsung kepada yang betul-betul mengetahui tentang ‎urusan agama jika sekiranya saudara tidak mengetahui. Dan selanjutnya penulis mengharapkan ‎jangan sampai ada atau menimbulkan hina menghina sehingga membawa akibat yang tidak ‎diinginkan”.‎

Menurut beliau, buku ini ditulis sekadar untuk menangkis serangan yang dilancarkan tokoh-tokoh ‎muda pemikir agama yang secara sembrono memberikan fatwa-fatwa seolah-olah para alim ulama ‎kita yang terdahulu telah memberikan jalan yang sesat kepada kita.Tulisan ini sama sekali bukanlah ‎hasil dari penafsiran penulis sendiri tetapi hasil dari pemikiran ulama-ulama besar kita yang telah ‎mengambil dasar-dasar menurut rel yang sebenarnya sesuai dengan ajaran Islam.

Dari karya tulis beliau yang satu ini juga kita dapat melihat kiprah beliau dalam menghapus keraguan-keraguan atau perselisihan-peselisahan masyarakat terhadap satu dua hukum yang sering diperdebatkan pensyari’atannya.
Di dalam buku ini beliau memaparkan pendapat-pendapat beliau mengenai hukum talqin, tahlil dan tawassul‎. Menurut beliau, talqin, bacaan doa dan sedekah untuk mayit serta tawassul diperbolehkan dan tidak ‎bertentangan dengan syariat Islam asalkan sesuai dengan kaedah yang dicontohkan oleh ulama.‎ Karena pada dasarnya semuanya itu berdiri diatas dalil-dalil agama yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan.
Santri/Murid-murid beliau,antara lain adalah:‎

‎1. ’Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Sekumpul Martapura, ‎Pendiri Majelis Taklim Ar-Raudhah Sekumpul.‎



‎2. K.H. Prof. Dr. Ahmad Sjarwani Zuhri, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Syekh ‎Muhammad Arsyad al-Banjari, Balikpapan.‎

‎3. K.H. Muhammad Syukri Unus, Pimpinan Majelis Taklim Sabilal Anwar al-Mubarak, Martapura.‎

‎4. K.H. Zaini Tarsyid, Pengasuh Majelis Taklim Salafus Shaleh Tunggul Irang Seberang, Martapura ‎‎(selain sebagai murid, K.H. Zaini Tarsyid juga merupakan anak menantu Guru Bangil).‎

‎5. K.H. Ibrahim bin K.H. Muhammad Aini (Guru Ayan), Rantau.‎

‎6. K.H. Ahmad Bakri (Guru Bakri), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut.‎

‎7. K.H. Asmuni (Guru Danau), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aman, Danau Panggang, Amuntai.‎

‎8. K.H. Sayfi’i Luqman, Tulungagung (Jawa Timur).‎

‎9. K.H. Abrar Dahlan, Pimpinan Pondok Pesantren di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, ‎Kalimantan Tengah.‎

‎10. K.H. Muhammad Safwan Zahri, Pimpinan Pondok Pesantren Sabilut Taqwa, Handil 6, Muara ‎Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.‎

Post a Comment Blogger

 
Top